
Sebuah cerita dari dia.

Lahir dalam keluarga yang kurang berada hingga dibuang karena kekurangan pangan tidak membuatnya mati dijalanan ibu kota yang dingin dan kejam. Dia masih bertahan hidup kala seseorang yang sekarang ia panggil papa mengulurkan tangannya memberinya kesempatan untuk kembali tidur terlindung atap dan beralas lantai.
Tidak pernah terpikir juga orang baik yang dia sebut papa adalah seorang dengan gelar pembunuh berantai.
Arkasa didikte menjadi bengis sejak saat itu, saat usianya baru menginjak angka sembilan



Sejak itu Arkasa kecil yang selalu mengeluh lelah dan lapar telah mati terganti menjadi sosok kecil yang didikte dengan seribu satu ajaran tentang membunuh. Tumbuh penjadi pembunuh bayaran yang mewarisi kemampuan sang papa.
Dewasa layaknya hewan liar yang haus akan darah.
Arkasa buang perasaaan juga emosi lalu jalani hidup sebagai senjata abadi kaum-kaum kotor yang ingin melenyapkan tanpa menyentuh. Tangannya sudah terlampau kotor oleh darah, telinganya sudah terlalu sering dengar jeritan juga matanya yang sudah biasa melihat keputusan asaan.


Namanya Arkasa Bimantara.
Lahir pada 15 Januari 1996
Tidak memiliki ketertarikan pada jatuh cinta semenjak kandas hubungannya semenjak SMA.
Kata papa cinta itu tidak penting, yang penting hanya memuaskan klien dengan hasil yang bersih.
entah bagaimana, tapi arkasa merasa dirinya telah mati, sejak lama bersama jiwa-jiwa yang ia bunuh tanpa rasa bersalah.
